Sahaya: TPP Itu Bukan Hak Tapi Bonus

SATUBMR,KOTAMOBAGU – Pemotongan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) di lingkup Pemerintah Kota Kotamobagu dikeluhkan oleh sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut ASN yang enggan disebutkan namanya mengaku, harusnya TPP diberlakukan untuk disiplin lain.

Dia menambahkan, untuk urusan salat jika dikalkulasi seperti itu, maka nilai ibadah otomatis gugur. “Masa urusan dengan Allah diatur oleh pemerintah,” ini kan aneh tukas ASN tersebut. Dengan aturan tersebut menurut para ASN adalah pemaksaa kehendak oleh Pemkot Kotamobagu.

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kotamobagu, Sahaya Mokoginta mengatakan, TPP itu bukan dipotong, tetapi ada sekian persen tidak dibayarkan karena tidak dipenuhi target.

Baca Juga:   Diknas Akan Periksa Laporan Pungutan di SMPN 4 Kotamobagu

“TPP itu bukan hak, berbeda dengan gaji. TPP merupakan bonus yang disiapkan oleh Pemkot kepada ASN yang memili kinerja ,disiplin dan melaksanakan program Pemkot. Dalam perhitungan TPP ada program yang dicontohkan untuk dilaksanakan oleh ASN, jika dilaksanakan maka dapat bonus, diantaranya kegiatan keagamaan (salat subuh, kerohanian agama non muslim,” ujar Sahaya, Sabtu 25 Mei 2019.

Sahaya menambahkan, dimaksudkan program ini bukan tanpa tujuan, tetapi merupakan peningkatan keimanan dan ketakwaan ASN muslim. Jika program ini dimasukan dalam TPP, seharusnya bersyukur bukan hanya hadir upacara kita dibayar, tetapi kita saolat saja  Pemkot sudah menghitung  sekian persen dari TPP kepada kita ASN artinya Pemkot memprogramkan salat subuh dengan menyiapkan bonus 5% dari TPP.

Baca Juga:   Warga Mocil Tolak Penambahan Indomaret dan Alfamart, Dinilai Akan Matikan Usaha Kecil

“Jika tak ikut, maka tidak dibayarkan. Perlu diketahui bahwa TPP ini bukan hak, tetapi hanya bonus disiapkan oleh pemerintah daerah , dan kita sebagai ASN harus bersyukur, karena tidak semua daerah memberikan bonus TPP, apalagi salat saja sudah disiapkan bonus. Nah kalau tidak hadir,kenapa harus menuntut bonus itu?,” kata Sahaya.

Editor: Supardi Bado

Close