Internasional

RIP Sajad, Perjuangan Imigran Afghanistan yang Berakhir Pilu

×

RIP Sajad, Perjuangan Imigran Afghanistan yang Berakhir Pilu

Sebarkan artikel ini
Almarhum Sajad, warga Afghanistan yang meninggal di Manado. Foto Fb

SATUBMR,SOSOK – Grup Whatss app Badan Tazkir Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Manado, tiba-tiba dipenuhi ucapan duka. “Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Sajad telah meninggal”. Pagi itu (13/2/2019), Sajad yang dirawat intensif di RS Kandou Manado, menghembuskan nafas terakhir.

Kepergian Sajad (24) warga Afghanistan ini merupakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan yang mengenalnya. Sajad melakukan aksi bakar diri 7 Februari lalu karena protes terhadap UNHCR-PBB yang menggantung status mereka selama ini.

Belasan tahun mereka hidup di Rudenim tanpa ada status kependudukan. Rekan seperjuangan asal Afghanistan bernama Ali mengatakan, nasib mereka tak tahu seperti apa kedepannya. 11 tahun mereka di Sumbawa Nusa Tenggara Barat dan hampir delapan tahun di Manado.

Keluarga asal Afghanistan di Rudenim Manado saat melakukan protes. Foto Ist

Ali yang saat ini sedang menyelesaikan kuliah di Fakultas Teknik Unsrat Manado menceritakan kisah keluarganya sampai tiba di Indonesia.

Surat Elektronik yang dikirimkan Ali ke redaksi menceritakan, awal mereka meninggalkan Afghanistan karena konflik antar Islam Syiah dan Islam Sunni di Negara tersebut.

Pada tahun 2000 kami berjumlah 10 orang dengan 2 kepala keluarga yaitu keluarga Pak Mohammad Yaqub dan keluarga pak Mohammad Rahim. Pak Yaqub (Afganistan/ 38 tahun) dengan istrinya ibu Aqila asal Syria (27) serta 3 orang anak yaitu Sajjad (6 tahun), Zahra (4 tahun) dan Yahya umur 1 hari.

Sementara itu keluarga Pak Rahim asal Afganistan 41 tahun dengan istrinya ibu Amira asal Syria/ 27 tahun dengan anak 3 orang masing-masing Amar (7), Ali (5) dan Fatimah (2). Dua keluarga ini tiba di Indonesia menggunakan pesawat dan kemudian menggunakan kapal hendak ke Australia.

Namun, karena kapal mengalami kerusakan, mereka terombang-ambing dan akhirnya ditemukan polisi Indonesia. Sejak itulah menurut Ali mereka menjadi tahanan UNHCR-PBB dan hidup di Rudenim Sumbawa selama sebelas tahun.

Pada tahun 2011, dua keluarga ini kemudian dipindahkan ke Rudenim Manado, tinggal bersama imigran dari Negara lain sampai dengan saat ini. Menurut Ali, mereka ditempatkan dalam satu ruangan dan semua berbaur di Rudenim Manado.

Aksi Mogok makan yang digelar sebagai protes terhadap UNHCR-PBB. Foto Ist

Menurutnya, mereka bersyukur karena selama Sembilan tahun di Manado, banyak kalangan yang membantu mereka hingga bisa sekolah. “Saat ini saya sedang menyelesaikan studi di Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Unsrat. Alhamdulillah karena banyak yang peduli dengan kami. Biaya kuliah dan kehidupan kami dibantu oleh rekan mahasiswa dan Dosen di Unsrat,”ujar mantan Ketua Badan Tazkir Unsrat periode 2017-2018 ini.

Ali mengatakan, selain menderita karena tidak ada status kependudukan, sejak Februari 2019, pihak UNHCR-PBB menghentikan bantuan kepada mereka termasuk obat-obatan dan makanan.

Permohonan mereka agar memperoleh status pengungsu “Refugee” ditolak oleh UNHCR yang selama ini memberikan bantuan kepada mereka. Padahal menurutnya, keluarganya tidak memiliki catatan kriminal  dan hanya imigran yang hendak mencari suaka.

“Kami protes karena bantuan distop oleh UNHCR, beberapa hari terakhir kami hanya diberikan makanan jadi. Itu tidak sesuai dengan selera kami. Karena itulah rekan kami Sajad melakukan aksi bakar diri,” tukas Ali.

Perjuangan dua keluarga sejak tahun 2000 lalu hingga kini belum terwujud. Untuk kembali ke negara mereka, harus mengurus persyaratan, apalagi saat ini negara mereka masih terus konflik antara pemberontak Taliban dan Pasukan Tentara Afghanistan yang dibekingi Amerika Serikat. 17 Tahun konflik dan perang berkepanjangan membuat mereka enggan kembali ke sana.

Kepergian Sajad, merupakan potret perjuangan imigran di perantauan akibat konflik di negaranya. Perjuangannya harus berakhir dengan kisah menyedihkan.

Editor: Supardi Bado