Novelis Andal BMR Visio Nova Berpulang

SATUBMR,KOTAMOBAGUInnalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, kabar duka bagi warga pecinta novel di Bolaang Mongondow Raya (BMR). Salah satu penulis novel asal Kotamobagu bernama Tin Suhati Nova Mamonto (Visio Nova), menghembuskan nafas terakhir (30/06/2018).

Menurut keluarga, Eldy Satria Noerdin, Nova sapaan akrabnya meninggal di Rumah Sakit Profesor Kandou Manado pukul 21.00 WITA. “Almarhumah sudah dikebumikan, tadi pagi Minggu, (01/07/2018), di pekuburan Mogolaing,’ kata Eldy.

Kabar duka kepergian sang novelis ini, langsung tersebar di media sosial. Nova Mamonto atau biasa di media sosial Visio Nova, memang dikenal warga bukan sebagai novelis. Nova dikenal sebagai seorang pegawai di Bank Sulut Kotamobagu.

Ditengah kesibukannya sebagai teller di Bank, Nova kemudian menulis novel yang terkenal dengan judul ‘Seven Impossible Days’ (7Impossible Days).

7 Impossible Days merupakan novel pertama Nova. Novel ini ditulis oleh almarhumah selama lima tahun sejak tahun 2008 hingga 2012. Selain novel tersebut, karya lainnya adalah Membidik Daerah Pemekaran Dengan Customer Oriented Banking, artikel yang dimuat di koran lokal.

Baca Juga:   Hi Ramono Siap Berjuang Bersama Rakyat di Dapil 5 Bolmong

Nova lahir di Manado 5 November 1976. Setelah menyelesaikan kuliah di STIE Perbanas Jakarta, pada tahun 2002 Nova bekerja sebagai Customer Service pada salah satu bank swasta di Sulut sampai sekarang.

Berikut petikan tulisan Visio Nova saat menulis novel di blog miliknya:

“Saya ngetik dalam ruangan berukuran 3 x 2 meter dengan jendela yang menghadap ke gunung Ambang. Gunung yang bisa terlihat dari semua sudut di kota kecil tempat saya tinggal. Sejak 2008, tiap malam ini kerjaan saya, mikir dan nulis. Iya, nulis novel fantasi lebih banyak makan imajinasi daripada makan pikiran.

Tapi, nulis novel itu lebih sulit dari yang saya duga, jadi menghadirkan imajinasi ke dalam kata-kata gak gampang juga. Dulu, seorang penulis senior, saya sebut dengan hormat, Pak Pramodeya Ananta Toer, pernah menasehatkan, “Tulislah apa yang ada di pikiran dan hati kamu karena inti dari menulis itu adalah subyeknya (si penulis).”

Dalam jalur fiksi fantasi juga terdapat manifestasi pemikiran dan kata hati yang dikolaborasikan dengan imajinasi untuk membangun sebuah dunia dimana tokoh-tokoh kita berinteraksi. Hati saya cenderung bicara tentang kebebasan hakiki yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar kita nikmati secara utuh karena faktor conflict of interests.

Alam pikiran saya terikat dengan alam semesta; “Cogito Ergo Sum” Aku Berpikir Maka Aku Ada; bahwa materi, pikiran dan semesta adalah satu kesatuan. Dunia imajinasi memberikan ruang untuk materi inspirasi bekerja dan ruang 3×2 meter seluas stadion bola. Oke, saya berlebihan disini.

Intinya tiada batasan untuk ruang imajinasi, kebebasan hakiki saya ada disini. 7 Impossible Days adalah metamorfosa hati, pikiran dan imajinasi saya. Lebih-kurangnya suatu kisah hanya pembaca yang dapat menilainya dan saya hargai sepenuhnya. Dengan frase bijak: “Hen oida hoti ouden oida” I know one thing, that I know nothing (Socrates, paraphrased from Plato’s Apology), saya mengucapkan terima kasih telah memilih 7 Impossible Days.

Selamat jalan Nova Mamonto, Karyamu akan menjadi karya anak Bolaang Mongondow Raya dan bisa menginspirasi para novelis muda lainya.

Baca Juga:   Tingkatkan Kebersamaan, Danramil Poigar Beri Penganugerahan Untuk Anggota dan Keluarga

 

========

Tim satubmr.com

Close