Mendamaikan Sejarah (Menuju Bolmut Baru)

Oleh. Muh. Ersad Mamonto

Kata mendamaikan harus dimulai dengan pra kondisi, yaitu terjadi sebuah kegelisahan dalam masyarakat. Kegelisahan yang dimaksud bukanlah keadaan sedang perang atau bersikukuh siapa yang pantas menang. Mendamaikan bisa sajak kita artikan dengan mengupayakan perbaikan masa sekarang dan masa depan dengan berpijak pada masa lalu.

Semenjak kesejarahan kita dimulai dengan sangat mementingkan penanggalan terhadap peristiwa, atau pemenuhan kaidah ilmiah dalam meja-meja sidang, beberapa serpihan penting menjadi tercecer dan kabur. Tidak tahu persis kapan dimulai kelumit masalah ini. Pada akhirnya juga kesejarahan kita di Bolmut sangat diwarnai dengan struktur atau hikayat dan masyarakat yang menjadi sangat mistifikasi terhadap sejarah.

Jika merujuk pada historiografi, ada dua pilihan setidaknya yang harus dihadapi. Pertama, Apakah kita harus memulai dari historiografi yang umum, melalui pengklasifikasian dan bentuk-bentuk tunggal dari peristiwa? sehingga bisa ditarik sebuah kemiripan diantara peristiwa satu dan lainnya. Kedua, melihat betapa pluralnya peristiwa yang ada sehingga mengharuskan bahwa, historiografi kita harus dimulai dengan mengakui setiap peradaban mempunyai kemandirian masing-masing.

Bolmut harusnya memulai dengan serpihan-serpihan penting yang coba digeser oleh sense of power. Serpihan-serpihan penting tersebut bisa saja adalah peristiwa yang dianggap tidak masuk dalam wilayah keraton, tetapi mempunyai sumbangsih besar terhadap peradaban. Ketiga swapraja (Bintauna, Bolangitang & Kaidipang) dimungkinkan untuk dilihat dari sisi berbeda, tidak selalu melihat bagaimana dinamika dalam keraton. Cara melihat dari sisi yang lain ini memungkinkan untuk menuju peradaban Bolmut yang lebih tercerahkan.

Baca Juga:   Pendidikan Politik Pemilih Muda Yang Rasional, Kritis dan Cerdas

Pasca penghapusan swapraja dan masa orde baru bergulir, lanskape kratonik berubah secara radikal. Pada mulanya di setiap masyarakat selalu melihat keadaan dalam rumahnya, lambat laun mulai membandingkan dengan wilayah di luar rumah karena ketersambungan akses berupa jalan raya. Hal ini bukan dimaksudkan bahwa masyarakat dahulu tidak bersentuhan dengan dunia luar. Tapi, ketegangan dari keterbukaan dunia yang berasal dari banding-membandingkan antara satu wilayah dan lainnya menjadi titik penting untuk dilihat.

Sejarah bertanggung jawab dalam hal ini. Bolmut menjadi titik penting bagi ketiga swapraja dalam bentuk kekiniannya. Bukan lagi persoalan mengenai siapa yang mempunyai trah darah biru yang menang dan menjadi keterwakilan dari eks swapraja, yang mempunyai kekuatan mengehegomini peradaban lainnya. Tapi, beberapa serpihan penting semisal sejauh mana peradaban kita kini yang diberi nama Bolmut berjalan.

Baca Juga:   Mengenang Gus Dur di 4 Agustus

Hal ini harus dimulai dari proses tersadarakan dari struktur sampai ke kultur. Para elit dan intelektual harus membersihkan pikirannya, mengakui konteks kekinian bukan lagi persaingan antar swapraja, tapi perbaikan kemanusiaan di masa depan. Juga, historiografi kita harus membiasakan diri dengan hubungan multi-kratonik.

Peradaban agung ketiga swapraja yang menghasilakn produk, semisal bahasa dan teknis pelaksanaan adat, bukan hanya dihasilkan secara tunggal dari dalam kraton. Tidak bisa dipungkiri sebelum tradisi kita mengakar, sebelumnya tejadi penyemaian antara kita dan dunia luar. Setidaknya ada dua hal yang mesti dilihat. Pertama, dunia luar dalam wilayah kraton, yang menghasilkan hubungan multi-kratonik, yakni peradaban bergerak mandiri diluar kraton tapi mengakui legitimasi kraton. Kedua, terjadi persentuhan antara ketiga swapraja dengan dunia luar, sehingga menghasilkan proses kritik atau pembaharuan terhadap tradisi secara makna atau teknis.

Akhirnya, pemaknaan baru terhadap sejarah kita adalah buah segar dalam proses berkebun kita di lahan yang kita sebut Bolmut(*)

=================================

Catatatan: Redaksi satubmr.com menerima tulisan dalam bentuk opini. Tulisan merupakan tanggung jawab si penulis sepenuhnya. Redaksi akan lakukan editing tanpa mengurangi maksud daru tulisan.

Kirim tulisan anda di redaksisatubmr@gmail.com, Konfirmasi via WA 085240535881. Trims

Close