Kisah Ahmad Selamat Dari Lumpur Petobo: Saya Timbul Tenggelam Dalam Lumpur Hampir 1 KM

SATUBMR,PETOBO– Ahmad AL-Gafar, 16 Tahun Warga Kelurahan Petobo RT 3/RW 1, Palu Selatan yang selamat meski sempat hilang ditelan lumpur.

Kepada Bogani Rescue Team J Resourcess yang mengevakuasi keluarganya, Ahmad menceritakan, Sore menjelang Sholat magrib sekitar pukul 17.40 dirinya berada didalam rumah, kebetulan dia tinggal dirumah kakaknya.

‘’Hari itu saya dititipkan rumah oleh kedua kakak saya yang sedang bekerja di Kota Palu. Sambil duduk menunggu magrib, tiba-tiba bumi bergoncang keras,’’ jelas Ahmad.

“Dalam suasana goyangan dahsyat, saya kaget dan langsung keluar rumah, di teras rumah terdengar suara saudara saya memanggil, saya lihat mereka ada 5 orang Kiki, Andri, Eka, Om Aznan dan istrinya memanggil dengan histeris agar saya berlari ke arah mereka.

Tanpa berfikir saya lantas lari menghampiri saudara saya tiba-tiba jalanan pecah dan berhembus lumpur dari dalam tanah menyembur sangat tinggi dan banyak, sejak semburan lumpur itu situasi sudah tidak beraturan, teriakan disegala penjuru, sahut sahutan tangis, takbir, ada yang istigfar dan saling memanggil,”

‘’Saya sudah tidak melihat keluarga saya lagi. Saya terseret lumpur, beberapa kali saya tenggelam tak bisa bernafas, hingga di satu waktu saya tenggelam cukup lama. saya berontak dalam lumpur, dalam situasi itu saya tidak perbah berfikir akan selamat,’’ terangnya.

“Tiba-tiba tangan saya menyentuh batang pohon, saya menarik batang pohon itu sekuat tenaga yang masih tersisa, alhamdulillah usaha saya berhasil mengeluarkan kepala di permukaan lumpur hingga bisa bernafas.

Perlahan saya tarik badan saya keluar, hingga akhirnya terapung diatas batang pohon Jati yang saya tarik itu, bumi masih bergoyang kejadian itu berlangsung sekitar 20 menit, lumpur dan batang pohon masih terus menyeret saya hingga akhirnya saya melihat 3 saudara sepupu saya (Kiki, Andri dan om Aznan) juga berada di pohon tumbang tidak jauh dari pohon jati yang menyelamatkan saya dengan sekujur badan berlumur lumpur.

Baca Juga:   Pendemo: Kami Minta Rektor UDK Mundur

Situasi yang paling membuat saya sedih adalah ketika saya memanggil mereka semuanya menyahut. Juga di dalam lumpur terdengar sahutan kakak sepupu saya, “kak Eka’” teriak saya, terdengar sahutan dari lumpur “Ye’ saya disini”, terus om saya pak Aznan (Ayah kak Eka) spontan lompat ke arah suara tersebut.

Dia berusaha mengangkat kak Eka dari lumpur yang juga terjepit kayu dan puing bangunan, sebagian badan kak Eka berhasil diangkat om saya ke atas bongkahan tanah yg agak keras. Akhirnya dalam usaha menyelamatkan kak eka om saya seperti dihisap lumpur. itulah terakhir kali saya melihat om Aznan hingga saat ini, ”

” Saya dan kakak sepupu saya berusaha mengagkat kak Eka, ke atas atap rumah yang juga ditelan lumpur, kami berdiam diri di atas atap tersebut, namun sayang kaki dan lengan kak Eka patah,kampung kita berpindah, diseret sejauh -+ 1 Km dari tempat awal.”

Malam itu makin mencekam, gelap, dingin, terdengar banyak suara minta tolong dari balik puing bangunan, saya mendengar suara tangisan bayi dan ibu-ibu yamg terus menangis meminta pertolongan, kami tidak bisa berbuat lebih, kami pasrah dan terus menangis, sedikit saya ngantuk dan hampir tertidur, tapi kaget karena tanah masih bergerak.”

“Fajar mulai terbit, dalam keadaan menggigil kami mulai melihat situasi kampung yang porak poranda. Lebih dari 100 orang yg berteriak meminta pertolongan, ada yang tertimbun setengah ada yg tidak bisa bergerak karena patah tulang, ada banyak juga yang menangisi sanak keluarga mereka yg telah meninggal di samping mereka.”

“Mayat bergelimpangan. Bayi yang semalam saya dengar menangis pun juga ikut menjadi korban meninggal.
tak ada rasa sedih, yang ada adalah tekad untuk keluar dari tengah kampung yang berubah menjadi lumpur itu, saya dan kakak sepupu saya membuat tanduh dari papan puing bangunan, kak ekak kami letakan diatas papan dan kami tarik perlahan ke arah yang aman.”

Baca Juga:   Sukamulia Banjir Dukungan Maju di DPRD Kotamobagu

‘’Beberapa kali kami teriak minta tolong tapi tidak ada yang perduli, mungkin karena kita sama-sama korban, bahkan saya minta air minum tidak ada yang peduli, sampai di tepi lumpur kami mengankat kak Eka hingga ke tempat banyak orang yang saat ini menjadi pos pengungsian,’’ katanya.

“Perjuangan tidak selesai, tak hanya berjuang melawan lumpur, kami pun kelaparan tidak ada makanan dan minuman saat itu, kak eka terus menjerit karena tidak ada penanganan medis hari itu. Namun situasi itu membuat saya malah makin kuat. ”

“Saya baru dapat makanan 1 hari setelah kejadian itu, setelah saya ditemukan kakak saya dan orang tua saya 4 hari setelah kejadian, saya bersama sepupu saya kembali kelokasi terakhir kali kami melihat om Aznan, kami menggali secara manual dan alhamdulillah kami temukan jenazah Bibi ku Istrinya om Aznan, sedangkan om Aznan sendiri hingga saat ini kami belum temukan,” ujarnya mengisahkan kepada Tim Bogani Rescue JRBM yang terdiri dari Ary Podomi, Ar Podomi, Pardi Mamonto, Adi Mokoagow dan Roy Mamonto.

Tim ini tergabung di 30 tim dari perwakilan perusahaan seluruh Indonesia dibawah kendali Kementrian ESDM berkoordinasi dengan Basarnas.

Cerita seperti yang dialami Ahmad adalah pengalaman mengerikan dari gempa dan tsunami menerjang Palu dan Donggala Jumat 27 September 2018. Ribuan nyawa melayang dan puluhan ribu harus kehilangan tempat tinggal.

 

Tim

Close