Diresmikan Wali Kota, Sumitro: Komalig tak Hanya Simbol

SATUBMR,KOTAMOBAGU – Bolaang Mongondow memiliki beberapa bangunan sebagai tempat tinggal. Ada yang disebut Lurung (Laig), Baloi, Genggulang, Silidan dan Komalig. Jika empat bangunan masih bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, ada satu bangunan yang jarang ditemui, yakni Komalig, atau rumah yang ditempati Raja dan keluarganya di zaman kejayaan Bolaang Mongondow waktu.

Komalig ini berbentuk rumah panggung yang sebagian bahan dasar menggunakan kayu. Komalig memiliki serambi depan yang disebut Dangkulon. Bangunan Komalig dahulu terdapat di Kotobangon. Namun, saat pergolakan permesta 1957-1959, Komalig banyak yang dibakar.

Sebagai bentuk pelestarian eksistensinya, pemerhati budaya BMR, Sumitro Tegela dan beberapa warga Kopandakan menginisiasi replika Komalig yang dibangun di samping Kantor Desa Kopandakan I, Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.

Baca Juga:   Revolusi Mental Bagi ASN Kotamobagu

Bangunan ini diresmikan Wali Kota Kotamobagu, Ir Hj Tatong Bara bersama Wawali Nayodo Koerniawan SH, Senin (18/11/2019). Wali kota mengapresiasi pembangunan replika Komalig ini. Bahkan, wali kota menyempatkan diri mencoba menggunakan beberapa replika yang biasa digunakan oleh orang Mongondow zama dahulu yang tidak dijumpai saat ini.

Inisiator Replika Komalig, Sumitro Tegela menyanpaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Kotamobagu, Wali Kota Ir Tatong Bara dan Nayodo Koerniawan telah meresmikan replika Komalig ini.

“Terima kasih kepada Pemkot Kotamobagu, juga kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Ketuhanan yang Maha Esa dan Tradisi, Pemerintah Desa Kopandakan, Guhanga, Guranga, Pemuda dan seluruh warga Kopandakan I sehingga Komalig ini bisa terealisasi,” ujar Sumitro.

Baca Juga:   Setelah Ibadah di Gereja Anggota TNI Ini Bantu Petani Tanam Padi

Menurutnya, Komalig ini sebagai langkah awal untuk bangkitnya pengetahuan akan budaya dan sejarah BMR untuk generasi muda. Ini tidak hanya sebagai simbol, akan tetapi menjadi basis pelurusan sejarah Bolaang Mongondow yang selama ini tidak terungkap.

“Kita akan menjadikannya sebagai rumah adat yang menjadi pusat kajian sejarah. Pelurusan sejarah itu penting agar kuat dari sisi fakta. Kami juga meminta bantuan dari pemerintah agar rumah adat bisa dijadikan pusat pelatihan seni budaya BMR ,” tukas Tegela.

Ke depan, replika Komalig ini bisa dijadikan sebagai pusat destinasi wisata sejarah dan budaya BMR di Kotamobagu. Pantauan satubmr.com, Komalig ini mulai mengoleksi benda dan situs peninggalan orang-orang Mongondow zaman dahulu.

DiBa

Close